Ketika Merasa Sendiri

Ari Krisdianto // 23 April 2010

Aku bayangkan diriku tengah duduk di dalam sebuah ruangan. Sendirian.

Tak ada yang menemani. Aku rasakan kesunyian begitu memekakan telinga.

Bukan hanya kekosongan yang kurasa, setiap detik yang kudengar dari jam dinding seakan bernyawa.


***

Dalam perjalanan hidup ini sering kita merasakan kesendirian dan kesunyian. Menyepi dalam ruang waktu.

Kesendirian kadang menakutkan, tapi kadang menjadi bagian hidup yang kita inginkan.

Di dunia nan fana ini pada hakikatnya kita tidak sendiri. Ada banyak orang yang di sekeliling kita. Ada ibu, ayah, kakak, adik. Ada teman, sahabat, dan banyak lagi orang-orang yang kita temui di komunitas-komunitas ataupun dalam perjumpaan sesaat.

Akan tetapi, seringkali, keramaian yang ada di sekeliling kita malah makin menegaskan bahwa kita tetap sendiri. Riuh rendah suara tak mampu memengaruhi mengawangnya mimpi-mimpi dan harapan kita. Ramainya jalanan kota yang kita lewati, tak membuat pikiran kita menyadarinya. Yah, kita tetap sendiri.

Ini bukan soal status ataupun keadaan ditinggal yang terkasih. Ini adalah jalan hidup yang sedang kita lalui. Setiap kita punya keadaan dalam kesendirian ini.

Setiap detik, setiap jam hingga setiap hari yang kita lalui adalah saksi-saksi dari kesendirian ini.

Kita selalu merasa sendirian menjalani pernak-pernik dalam hidup ini. Selalu merasa hanya seorang diri yang harus sakit ketika memutuskan banyak hal. Begitu pula ketika rasakan manisnya, hanya seorang diri.

Kita merasa sendirian, ketika seolah-olah tak ada lagi yang berpihak atas apa yang kita putuskan dan akibat yang kemudian diterima.

Mereka yang ada di sekeliling kita bukannya tidak hadir ketika cucuran air mata tak lagi terbendung. Teman bukannya tak menggenggam erat tangan ini ketika diri tengah butuh pegangan. Orangtua bukannya tak mengerti apa yang sedang dirasakan. Bukan karena hal-hal itu. Mereka tetap hadir, dengan senyum, dalam sejuta nasehat, dan dalam pelukan-pelukan erat yang mendamaikan.

Diri ini tetap sendiri... sepi dan menakutkan.
Kesunyian tidak hanya memekakkan telinga, tapi juga merusak gendang telinga hingga tak mampu lagi mendengar.
Hati ini bukannya tak lagi merasakan kesepian karena segalanya bukan hanya meninggalkan sepi, tapi juga kehampaan.

Karena... kesendirian begitu menyakitkan ketika merasa Tuhan tak lagi bersama kita
.

Dia yang Maha Mengetahui apa yang ada di hati ini, yang sering kita sembunyikan. Seringnya kita lalai dan tak ingat, Dia bersama kita. Dia yang kita sembah dan kita mohonkan pertolongan.



Kesunyian itu hadir ketika aku lalai

Kesunyian itu memelukku ketika aku lengah

Kesendirian karena melupakan-MU dalam zikirku

Kesendirian sesaat yang mengiris-iris hati ini....



Perenungan di malam-malam sunyi


Ya Allah

Hanya kepada-Mulah, aku menyembah

Dan hanya kepada-Mu, aku mohon pertolongan

1 komentar

Tulis Komentar Kamu pada Kotak di Bawah ini: