Greatest Love of All

Ari Krisdianto // 28 April 2010

TERDAPATLAH seorang filsuf Yunani bernama Xenophanes mengatakan sebagai berikut:
“….seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentu kuda akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada tuhan-tuhan seperti terdapat pada mereka sendiri. Orang Ethiopia mempunyai tuhan-tuhan hitam dan berhidung pesek, sedangkan orang Eropa menggambarkan bahwa tuhan-tuhan mereka bermata biru dan berambut merah”

Pendapat di atas menunjukan ketika seseorang menggambarkan suatu obyek sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya. Hal yang serupa juga terjadi ketika setiap manusia mencoba mengenal Tuhannya. Buku apa yang pernah dibacanya, bagaimana latar belakang pendidikannya, dengan siapa dia bergaul, atau siapa gurunya, ikut berperan membentuk pemahaman keagamaan seseorang. Makanya kemudian muncul istilah ilmu kalam, ilmu tasawuf (sufisme), atau ilmu fiqih (ilmu hukum). Kita juga pernah mendengar istilah “islam santri” dan “islam abangan”.

Hal di atas menunjukan bahwa persepsi atau sudut pandang seseorang bisa sangat beragam, meskipun sebenarnya obyek yang mereka lihat adalah sama: Tuhan. Silakan anda bertanya kepada orang Muslim, orang Nasrani, Hindu atau Budha : siapa yang menciptakan alam semesta dan segala isinya? Jawabnya pasti sama : Tuhan. Tetapi ketika kita masuk wilayah yang lebih dalam dan mendetail, seperti misalnya tentang konsep ketuhanan, keimanan, atau cara bersembahyang misalnya, maka akan muncul jawaban yang berbeda-beda. Jangankan antar umat yang berbeda agama, bahkan dalam satu agama pun perbedaan itu tetap masih bisa muncul.

Bagi kalangan fiqih (hukum), maka Tuhan dilihat sebagai Hakim yang berhak menentukan benar salah, dosa pahala, hingga menentukan siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka. Beda lagi dengan kaum filsafat, mereka melihat Tuhan sebagai penyebab semua yang ada di alam semesta ini.

Lalu bagaimana dengan kelompok Tasawuf (Sufisme)? Kelompok yang satu ini sering disebut sebagai “kaum feminin” sebab mereka mengusung madzhab cinta. Tuhan di mata mereka adalah “Sang Kekasih”, yang oleh karenanya hanya bisa dipahami dengan bahasa rasa, bahasa cinta. Dan bahasa rasa ini sulit dipahami dengan rasional semata. Kalau anda diminta menjelaskan bagaimana definisi rasa “manis”, apa yang akan anda katakan? Sebab ada beragam rasa manis, yang masing-masing memiliki sifat berbeda-beda. Manisnya gula beda dengan manisnya madu, beda lagi dengan manisnya buah mangga misalnya. Kalau anda ingin tahu tentang rasa manis, silakan anda cicipi sendiri bagaimana rasanya madu, gula, atau buah mangga.

Demikian pula dengan bahasa cinta kaum Sufisme, hanya bisa dipahami dengan rasa. Maka dari itu, terkadang sering muncul perbedaan pendapat antara kaum Sufisme dengan kaum Fiqih. Bagaimana tidak berbeda, lha wong cara memandangnya saja sudah berbeda? Sufisme mengandung bahasa rasa, abstrak dan symbol-simbol, sedangkan kaum Fiqih memakai rumusan hukum yang lugas dan tegas.

Jadi salah satu problem dalam memahami ajaran Kitab Suci dan konsep Sufisme adalah adanya keterbasan bahasa manusia. Pengalaman tentang jatuh cinta dan definisi tentang jatuh cinta, bisa jadi dua hal yang berbeda. Kata-kata tidak akan sanggup menjelaskan tentang “cinta”, sama seperti contoh di atas ketika anda diminta menjelaskan tentang rasa manis, susah sekali untuk dirasionalkan.

Seolah-olah memang ada dua area yang berbeda, satu area adalah “wilayah kerja rasa/batin” dan area lain ada “wilayah kerja rasional”. Ya, itu memang dunia yang berbeda, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Kita enggak bisa mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara hanya dengan dunia batin (Sufisme). Tapi kita juga enggak bisa memahami dunia batin atau dunia spiritual hanya dengan melulu rasional. Sama seperti kalau kita bicara tentang matematika dan fisika. Dua-duanya bisa saling berhubungan. Dua-duanya bisa dipakai ketika orang mau mempredikisi kapan akan terjadi gempa atau tsunami, misalnya. Nah disini matematika berperan, tapi fenomena tsunami adalah fenomena fisika sebenarnya. Meskipun demikian, matematika dan fisika merupakan dua ilmu yang tetap enggak bisa dicampur. Orang bisa menggunakan matematika murni, bisa juga menggunakan fisika murni. Tapi keduanya bisa berfungsi bersama.

Kita kembali ke masalah cinta, masalah rasa. Dalam Islam ada dua model cinta yang biasanya saling tarik menarik satu sama lain : cinta dunia dan cinta kepada Tuhan. Dua model cinta ini selalu menimbulkan dilemma dalam kehidupan seseorang. Dalam al-Quran, dilemma dua cinta ini diceritakan secara sangat apik dan menyentuh, yaitu kisah tentang Nabi Ibrahim as dan keluarganya. Kita sudah sering mendengar kisah bagaimana Nabi Ibrahim terpaksa meninggalkan Siti Hajar dan anaknya (Ismail) yang masih berumur beberapa hari di tengah ganasnya padang pasir, demi menjalankan perintah Tuhan. Kita juga melihat bagaimana pengorbanan dan perjuangan yang didorong api cinta seorang ibu (Siti Hajar) ingin memberi minum anaknya yang kehausan. Kisah perjuangan penuh cinta Siti Hajar ini begitu agung nilainya, sehingga diabadikan dalam ritual haji (sa’i). Tidak berhenti sampai di situ saja, ketika Ismail sudah tumbuh besar, Nabi Ibrahim kembali mendapat “ujian cinta” dari Tuhan yaitu perintah untuk menyembelih putera yang amat dicintainya itu. Dalam kisah itu kita bisa melihat bagaimana ketegaran seorang Nabi Ibrahim ketika beliau memilih untuk lebih mentaati perintah Tuhan daripada menuruti egonya sendiri.

Lewat kisah mengharukan Nabi Ibrahim di atas, kita seolah diajak untuk sadar bahwa sudah sewajarnya kecintaan kita pada Tuhan adalah berada di atas segala-galanya. Anak, jabatan, ketenaran, ketampanan, harta atau kepandaian adalah “pakaian-pakaian” ego kita, asesoris yang terkadang sering membuat langkah hidup kita menjadi terbebani. Bahkan tidak jarang, demi sebuah ambisi, kita rela mengorbankan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Adakah kita lebih mencintai pakaian dengan semua kemilaunya yang bersifat sementara ataukah lebih memilih bentuk cinta yang lebih tinggi derajatnya, mulia dan abadi? Seperti yang disimbolkan dalam gerakan pembuka sholat, yaitu Takbiratul Ihram, yang arti harfiahnya “takbir yang mengharamkan”. Apanya yang perlu ditakbiri? Apanya yang perlu diharamkan? Yang perlu ditakbiri (dikuatkan, ditegaskan) adalah tujuan hidup kita yaitu menggapai ridha atau cinta Allah semata, dan mengharamkan (membuang, menyingkirkan) segala sesuatu yang menghalangi cinta kita kepada-Nya.

0 komentar

Tulis Komentar Kamu pada Kotak di Bawah ini: